August 12, 2016

Return to Platform 9 3/4


Saya punya utang sama Aidan, janji yang harus ditepati. Waktu terakhir kali kami meninggalkan London menuju Leeds dari Kings Cross, Aidan gagal foto di Platform 9 3/4 karena di tengah-tengah antrian yang panjang kami sudah harus naik ke kereta kami. Jadi saya janji kalau kami dapat rejeki berkunjung ke London lagi, kami akan kembali ke Kings Cross khusus mengunjungi Platform 9 3/4 dan sepanjang apapun antriannya kami tetap akan mengantri supaya Aidan bisa berfoto di sana.

If you're a fan of Harry Potter, I don't need to explain what is Platform 9 3/4 and how important it is for a young wizard to pick a house scarf and pretend they're about to start a magical school year at Hogwarts by pushing their way across that red bricked wall. But if you're a clueless muggle (that's what we call people with no magical ability, so that you know) here's a quick explanation: Di Kings Cross penggemar Harry Potter bisa mengunjungi Platform 9 3/4, dimana kita bisa foto sambil pura-pura mendorong troli berisi koper dan perlengkapan sihir, pakai props segala, dan gratis. Bahkan petugas yang menjaganya akan membantu 'melempar' scarf Hogwarts yang kita pakai supaya ada efek melayang saat kita pura-pura berlari menembus dinding platform. Ada petugas yang memotret juga, walau kita juga boleh mengambil foto sendiri. Kita baru perlu membayar kalau mau mengambil foto yang dia potret di toko Harry Pottter yang ada di sana.

Jadi setelah kunjungan ke Neverland dan Wonderland kami makan siang di Kings Cross sambil menunggu Aidan dan Pakted tiba dari Liverpool. Si anak laki kemudian muncul dengan wajah sumringah dan jersey baru, semangat cerita pengalaman nonton di Anfield sambil langsung ngajak antri di Platform. Kali ini, mungkin karena belum musim libur, antrian gak begitu panjang. Meski begitu, kita tetap harus sabar menunggu setiap orang memilih scarf yang akan dipakai, memilih props dan gaya, kemudian beraksi beberapa kali dengan pose yang berbeda-beda. Ada petugas yang membantu mengenakan props (dia juga yang nanti akan 'melempar' scarf yang kita pakai) dan ada petugas foto yang membantu mengarahkan gaya. Semua orang yang berfoto gak diburu-buru sama petugas-petugas ini. Mereka ramah dan ngerti banget betapa pentingnya pengalaman mengunjungi Platform 9 3/4 bagi para pembaca Harry Potter.



Kebanyakan  pengunjung memang memilih scarf Griffindor, tapi Aira tentu pilih Ravenclaw. Aidan juga ternyata pilih Ravenclaw, dan mereka dapat komentar, "Good choice! You smart people sure need to team up in Ravenclaw!" dari si mbak penjaga props. Saya? Griffindor pride tetunya (walau kemudian di Pottermore ternyata saya masuk Ravenclaw.. haha). Setelah pose maksimal, kami menuju toko Harry Potter di dekat situ. Lihat-lihat saja dan ngecek hasil foto bagus apa enggak, karena toh kami akan mengunjungi Harry Potter Warner Studio Tour, jadi bisa beli merchandise di sana saja.




Hasil foto di hape Pakted ternyata cuma bagus yang kami pose saja, yang sambil lompat atau bergerak kebanyakan goyang. Jadi saya pikir kalau hasi foto petugas waktu kami lompat kami bagus, boleh lah dibeli saja, supaya anak-anak senang juga. Ternyata hasilnya cukup bagus, terutama foto Aidan lompat. Dia ternyata lompat tinggi sekali, sampai dapat komentar dari petugas yang melayani cetak foto, "Wow, you're a great jumper!" Dan waktu Aidan ketawa kaget pas lihat hasil fotonya, "You didn't even know you could jump that high, didn't you?". Aidan the jumper girang banget dengan status barunya. Di Jakarta dia sibuk pamer fotonya lengkap dengan cerita dia dibilang great jumper. x)

Oke, Aira Aidan, janji ke Platform 9 3/4 yang beneran di Kings Cross udah dipenuhi yaaa.. Tinggal mengunjungi studio Harry Potter nanti. 


Us Girls Around London pt.2

Memulai hari liburan di musim dingin itu sungguh dilema. Apalagi di apartemen kami yang ternyata nyaman banget di Fulham. Lain halnya dengan musim panas yang waktu tidur langit masih terang dan pas bangun langit udah terang lagi, kali ini langit gelap melulu. Bangun jam 8 kayak kebiasaan liburan kami yang lalu jadi susah banget. Langit dan selimut ngajak meringkel di tempat tidur terus, tapi di saat yang bersamaan gak mau rugi waktu dan pengen buru-buru keluyuran karena tau nanti jam 4 sore udah gelap lagi.


Saat hanya berdua sama Aira gini kegiatan siap-siap pagi hari gak terlalu sulit, sih. Hanya perlu nyiapin sarapan dan antri mandi untuk dua orang, kemudian kami siap berangkat. Tujuannya Victoria & Albert Museum, mencari Peter Pan Statue di Kensington Gardens, mengunjungi British Library, lalu janjian ketemu Pakted dan Aidan yang akan kembali dari Liverpoo hari itu di stasiun Kings Cross.

August 08, 2016

Us Girls Around London pt.1



Pada hari kedua kami di London Pak Teddy dan Aidan pergi ke Liverpool mengejar matchday. Mereka menginap semalam di sana, jadi saya dan Aira punya waktu 2 hari untuk jalan-jalan berdua. Berhubung aman, nih, gak ada Aidan yang mudah bosan, sengaja saya pilih tempat-tempat tujuan yang kurang diminati Aidan.

Setelah Aidan & Pak Teddy berangkat, saya dan Aira santai-santai dulu di apartemen. Langit abu-abu dan gerimis di luar emang agak bikin mager. Kemudian Rendy, yang hari itu berulang tahun, ngajak kami makan bagel dulu di Shoreditch. Pas banget lah, bagel untuk lunch, baru kemudian jalan-jalan.

May 26, 2016

The Beigel Quest


Known as one of the oldest & the best bagel shop in London, Beigel Bake has become an institution of London's  Brick Lane. So one wet Sunday, we took a trip to Shoreditch on a quest of what supposed to be London's best bagel.

February 01, 2016

Go Someplace You've Never Been, Katanya



Kata Dalai Lama, once a year go some place you've never been before. Tapi magnet yang menarik hati ini untuk kembali ke tempat yang sudah pernah dikunjungi ternyata kuat sekali. Iya, hati saya kan kemarin itu tercecer di jalanan kota London tuuuh, jadi tentu harus kembali lagi untuk dipungutin kan?

December 02, 2015

Soapy Mess, Happy Mess


Di sekolah Aidan saya banyak berkenalan dengan banyak ibu yang kreatif. Salah satu yang truly inspiring bagi saya adalah Ibu Anti (https://www.instagram.com/sabun_ti_anti/). Mulai dari segala home cooking yang serba sehat, organik, bahkan raw, Bu Anti bisa bikin sendiri. Ternyata gak berhenti di menu yang tak hanya sehat tapi juga tampak kece, Anti mulai mengerjakan sesuatu yang waktu itu tampak gak mungkin bagi saya: handmade all natural soap. Tiap liat foto-foto sabun buatan Anti, rasanya pengen saya gigit.

November 30, 2015

Review: Apartment in Whitby & Edinburgh


Di perjalanan dari Leeds menuju Edinburgh kami menginap semalam di kota kecil bernama Whitby. Rencana awalnya kami akan menginap di Castleton, tetapi terpaksa batal karena pada tanggal kunjungan kami penginapan (yang jumlahnya gak banyak juga) penuh semua. Whitby, selain kota kecil, sama halnya seperti Castleton, bukan tujuan utama turis mancanegara. Tidak seperti York yang jadi salah satu tujuan rombongan-rombongan tour dan banyak terdapat hotel chains.

Setelah sempat cari-cari di Airbnb juga, akhirnya kami dapat apartemen yang sesuai dari booking.com. Baru dengar namanya saja, Teesdale Rooms, saya udah naksir. Memang salah satu kriteria pemilihan adalah saya pengen ngerasain nginep di apartemen yang kerasa 'Inggris'-nya. Setelah menginap di Roomzzz di Leeds yang settingannya ya, kayak hotel aja, dan Signature Living di Liverpool yang serba modern cenderung posh, saya langsung naksir banget sama interior-nya Teesdale Rooms. Karena lokasinya yang juga oke, dan harganya yang sekitar 75 pounds semalam, akhirnya sambil berdoa si apartemen akan sesuai sama tampilannya di foto, akhirnya kami book Teesdale Rooms.

November 23, 2015

Review: Aparthotel in Leeds & Liverpool



Iya, saya terlalu malas untuk menulis review terpisah mengenai akomodasi kami selama liburan di Inggris. Jadi akhirnya saya kelompokkan jadi dua saja, aparthotel dan apartemen.

Kami memang sengaja tidak menginap di hotel, karena menyewa dua kamar hotel untuk kami berempat tentu tidak murah, sementara gak mungkin juga disatukan dalam satu kamar. Selain itu kami memilih aparthotel atau apartemen karena ada dapur dan mesin cucinya. Jadi lebih praktis urusan pakaian kotor dan makan.

September 28, 2015

This is Edinburgh

There was nothing better than waking up in (rather) cold Edinburgh to the smell of hot fluffy nasi putih and rawon. Yep, that was the perks of traveling with my mother in law. Nasi putih dan lauk Indonesia hangat selalu tersedia. Soto ayam, rawon, rendang, you name it.


Jadi, setelah semua perut terisi, kami siap keliling Edinburgh lagi. Kali ini semua ikut. Pagi itu pelataran Kastil dipenuhi pengunjung. Plus Royal Military Tattoo yang setiap tahun digelar di pelataran Kastil pada musim panas sudah dekat. Jadi tribun untuk kursi penonton sudah siap, membuat pelataran makin sesak dan padat. Kastil yang penuh jadi tampak kurang appealing, bahka untuk sekedar berfoto di depannya. Aidan yang hari itu pakai baju kiper LFC kebanggaannya cuma mau berfoto menghadap belakang, supaya tulisan Aidan 70-nye keliatan. Baiklaaaah Aidaaaan...

September 03, 2015

Up North to Edinburgh



Sekarang, waktunya kami menyeberangi ‘perbatasan’ memasuki wilayah Skotlandia yang masih termasuk dalam Kerajaan Inggris Raya. Jika suatu saat kalian ke sana naik mobil, perhatikan batas wilayah Inggris dan Skotlandia yang ditandai bendera Inggris di satu sisi dan bendera Skotlandia di sisi lainnya. Kami melihat batas wilayah ini tentunya, tapi baru terlontar kalimat, "Wah seharusnya kita foto yaa..." setelah si borderline baru aja kelewatan dan kita gak bisa puter balik. Oh, well.

July 26, 2015

199 Steps Up The Melancholy Hill


Up on melancholy hill
There's a plastic tree
Are you here with me?
Just looking out on the day
Of another dream

Well you can't get what you want
But you can get me
'Cause you are my medicine
When you're close to me
When you're close to me

So call in the submarine
'round the world we'll go
Does anybody know, love
If we're looking out on the day
Of another dream

If you can't get what you want
Then you come with me

Up on melancholy hill
Sits a manatee
Just looking out on the day
When you're close to me
When you're close to me

When you're close to me


Pemberhentian kedua kami dalam perjalanan menuju Edinburgh adalah sebuah kota nelayan kecil bernama Whitby. Saya tumbuhbesar dengan membaca buku-buku Enid Blyton dan Roald Dahl, dan pengarang cerita anak-anak asal Inggris lainnya. Karena itu kota-kota kecil di Inggris benar-benar membuat saya jatuh cinta. Begitu juga halnya dengan Whitby.

July 25, 2015

To The Picturesque Seaside Town of Whitby


Waktu menyusun itinerary perjalanan kami di Inggris sebenarnya kami gak merencanakan untuk mengunjungi Whitby. Saya bahkan gak tau apa-apa soal kota kecil di tepi laut ini. Cornwall atau Dorset saya setidaknya pernah dengar, tapi kalau Whitby, I had no clue. Itinerary road trip di utara Inggris ini memang kami pasrahkan ke Rendy, yang emang tinggal di Leeds dan sering menghabiskan akhir pekan menjelajah  berbagai tempat di wilayah ini. Foto-fotonya selalu bikin iri bukan karena dia mengunjungi kota-kota besar yang gemerlap, tapi justru karena dia mengunjungi kota kecil di Inggris, yang gak umum dikunjungi turis, terutama turis Indonesia. Dan itu yang saya mau dari perjalanan ini, pengalaman mengunjungi kota yang Inggris banget. Jadi kalau ada yang tanya saya mau lihat apa di Inggris, dan saya jawab dengan: padang hijau dengan bunga kecil-kecil, kuda dan domba di kejauhan, laut di belakangnya, juga dinding batu dan desa nelayan - nah, itu emang jawaban yang sesungguhnya. Saya gak perlu amusement park asal bisa duduk santai sambil makan scones dan minum teh.

July 11, 2015

Yorkshire Road Trip


Kami sudah naik pesawat, naik bis, dan naik kereta. Sekarang waktunya menyusuri jalanan di Inggris dengan mobil! Yup, kami akan road trip dari Leeds ke Edinburgh, melewati York dan menginap di Whitby.

Setelah memasukkan barang-barang, perbekalan, dan nyumpelin 5 dewasa dan 2 anak ke dalam mobil 7 seaters yang kami sewa, kami pun meninggalkan Leeds, memulai road trip dengan mobil menuju Edinburgh dari Leeds.

July 09, 2015

National Railway Museum York


Setelah memarkir mobil di tempat parkir umum, kami berjalan kaki ke National Railway Museum. Seperti museum lainnya yang dikelola oleh negara, kita bisa masuk ke NRM dengan gratis. Kami mengunjungi dua bagian dari museum ini. Yang pertama kami jelajahi adalah Station Hall, bagian yang menyimpan koleksi kereta api Inggris dari jaman dahulu. Kereta-kereta ini disimpan di tempat yang menyerupai stasiun kuno. Mulai dari kereta api kerajaan, gerbong Ratu Victoria, kereta untuk membawa anak-anak sekolah Inggris ke asrama mereka, sampai kereta pengangkut barang ada disini.

June 08, 2015

Bye Ldn, Hello again Leeds


Kami akhirnya harus meninggalkan London. Sungguh deh, 4 hari itu gak cukup. Sungguh deh, salah banget pilih kereta siang untuk kembali ke Leeds, harusnya malam aja. Tapi, setelah pagi itu Aidan ikut Tante Santi nganter Ruyi ke sekolah, dan Bunda dan Tante Santi berlagak mau ke Royal Ascot pake topi-topi kece di teras apartmen, yang mungkin bakal dikir Madhatters dan bukannya bangsawan kalau ada tetangga yang lihat, akhirnya kami benar-benar harus mengucapkan terima kasih ke keluarga Ikhlas dan selamat tinggal kepada Colindale.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...